Secuil Kisah dari Madinah

Cerita berikut adalah bagian kisah dari pelaksanaan haji tahun 2022.

Alhamdulillah kloter 19 surabaya tiba di kota madinah pada malam sabtu jam 19.00 dan mendapatkan hotal di Pullman Zamzam. Salah satu hotel terbaik berbintang  5 yang ada di Madinah. Hotel bintang 5 ada plus minusnya bagi kita yang masih pemula. Pertama, perlantai ada kartu aksesnya sendiri, seperti Nyai Hj. Zulfa Badri yang berada di lantai 7 tidak bisa bertandang ke lantai lainnya. Efeknya, bagi karu dan karom agak susah untuk berkordinasi dan untuk mendistribusikan konsumsi yang diberikan kepada jama’ah haji. Namun, kelebihan hotel bintang lima ini luas sekali di masing masing kamar, ada sofa, microwave, dan kulkas yang bisa digunakan di masing-masing kamar. Yang jelas di satu sisi hotel bintal 5 itu “wah”. Disisi lain, Hotel ini juga tidak diperbolehkan mengadakan acara dan pertemuan dalam bentuk apapun. Alhasil, kegiatan yang dilakukan oleh jama’ah KBIHU Nurul Haramain harus dilaksanakan di luar hotel Hotel Pullman Zamzam terletak lurus pintu 357 masjid Nabawi.

Pelaksanaan khotmil Qur’an di Masjid Nabawi

Alhamdulillah jama’ah  kloter 19 hari Ketika sampai di Madinah pada Jum’at petang (17 Juni 2022) dan memulai kegiatan Arbain mulai sabtu subuh (18 Juni 2022) dan akan berakhir hari ini hari sabtu (25 Juni 2022) setelah sholat isya’. Maka pada hari ahad 26 Juni 2022) pagi jam 06.00 akan bertolak ke kota Mekkah. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kloter 19 pada hari kedua di Madinah yaitu hari ahad (19 Juni 2022) adalah berziaroh ke masjid Kuba’, dilanjutkan ke kebun  kurma, yang dilanjut ke Jabal Uhud. Perjalanan pulang dari zaiarah ini melintasi Khondaq dan melintasi masjid Qiblatain. Program Ziarah ini difasilitasi oleh Muassasah Adilla’. Jadi kita ada di Madinah itu penanggung jawabnya adalah Muassasah Adilla’. Kemudian di hari berikutnya hari senin (20 Juni 2022), seluruh keluarga KBIHU Nurul Haramain berkumpul di depan hotel untuk koordinasi terkait kondisi kamar, makan, jaringan data, dan kesehatan jamaah. Semua kegiatan kita pastikan terlaksana di pagi subuh dikarenakan cuaca di Madinah sangat panas. Hal ini dilakukan untuk memastikan jamaah mendapat pelayanan terbaik dari KBIHU sejak pagi hari pertama tiba di Madinah.

Hari berikutnya, (Selasa 21 Juni 2022) kita mengadakan ziarah ke pemaqam baqi’. Pemakaman Baqi’ merupakan makam 10.000 sahabat Nabi Muhammad SAW. Jamaah laki-laki diperbolehkan untuk masuk ke area dalam pemakaman Baqi’. Sedangkan untuk jama’ah perempuan menunggu di samping maqam bersama Nyai Hj. Zulfa Badri sambil melaksanakan pembacaan tahlil dan yasin yang dikhususkan untuk ahli kubur di maqam baqi’. Selesai dari Pemakaman Baqi, jamaah ziaroh dengan berjalan kaki menuju masjid ghomamah. Masjid ini adalah masjid yang ketika Rasulullah melaksanakan sholat jum’at , para jamaah merasakan panas yang sangat amat pada waktu itu. Kemudian Rasullulah berdoa kepada allah agar diberi nauangan, dan subhanallah tiba tiba muncul awan yang menaungi rasulullah dan para jama’ah sholat jumat. Sehingga sampai hari ini masjid ini diabadikan namanya menjadi masjid ghamamah. Perjalanan berlanjut menuju ke Masjid Abu Bakar. Di Madinah banyak sekali masjid yang diberi nama dengan nama para sahabat Rasulullah. Karena cuaca mulai panas, jamaah mulai diarahkan untuk kembali ke Hotel.

Pada Jum’at dini hari (24 Juni 2022), Alhamdulillah Seluruh keluarga besar jama’ah KBIHU Nurul Haramain bisa melaksanakan Sholat Qiyamul Lail. Dimana agenda ini dimulai dari jam 02.00 berqangkat dari hotel dan titik kumpul di pintu 365 pada jam 02.30. Jamaah laki-laki dipandu dan dibimbing langsung oleh KH. Mukhlisin Sa’ad selaku pembimbing KBIHU Nurul Haramain. Sementara jama’ah perempuan dipandu dan dibimbing oleh Nyai Hj. Zulfa Badri. Kegiatan ini dimulai dengan sholat tasbih, sholat hajat, sholat tahajjud, dan kita akhiri dengan sholat witir. Alhamdulillah banyak sekali jama’ah yang mengikuti kegiatan ini. Setelah subuh, jamaah KBIHU Nurul haramain tidak langsung pulang ke hotel. Melainkan berlanjut dengan melakukan sholat dhuha di Masjid Nabawi. Pahala orang yg melakukan sholat subuh dan menyambungkan sampai ke sholat dhuha dan diisi dengan berdzikir, membaca Al-Qur’an dan bersholawat, maka pahalanya seperti pahala haji. Pahala ini tidak hanya di dapat kitika kita melakukannya di Mekkah dan Madinah. Namun  di rumah pun kita akan mendapatkan pahala seperti pahala haji yang sempurna sempurna dan sempuna. Hal ini dikutip dari hadist rasulullah SAW. Setelah sholat dhuha, kita langsung kembali ke hotel untuk sarapan pagi. Alhamdulillah untuk menu makanan cocok dengan lidah jama’ah. bahkan  sampai ada yang bilang jamaah bertambah berat badan ketika melaksanakan ibadah haji karna makan sehari 3 kali dan lauknya juga luar biasa banyak. Terima kasih untuk pemerintah indonesia yang telah memanjakan jamaah selama berida di Mekkah Dan Madinah.

Alhamdulillah Sabtu pagi (25 Juni 2022) seluruh kloter 19 diberi izin atau mendapat tasreh / surat izin masuk ke raudhah. Jamaah laki-laki memasuki raudah pada jam 02.00 dini hari. Sementara jamaah perempuan  mulai dari tadi jam 07.00 pagi sudah mulai memasuki Raudhah. Alhamdulillah akses masuk ke raudhah sangat nyaman dan tidak berdesak – desakan. Jamaah sholat dan berdoa dengan tenang di raudhah. Suasana Raudhah yang aman tenang dan nyaman, membuat shof sholat dengan  diatur oleh para penjaga yang bertugas meski dibatasi hanya 15 menit. Dengan waktu yang sangat terbatas tersebut, masyaallah dan subhanallah kita merasa puas, nyaman dan tenang karna memang sudah diatur sedemikian rapi.  “Aturan ini selama musim haji sudah dimulai sejak hari sabtu pagi sejak kami baru datang ke Madinah”, tutur Nyai Hj. Zulfa Badri. Adapun di setiap harinya ada banyak jamaah yang masuk ke lingkungan Raudhah meski hanya diperbolehkan di samping Raudhah . Semoga ziarah dan seluruh amalan Jamaah serta seluruh program kegiatan yang diagendakan menjadi amalan yang diqobul oleh allah SWT.

Ny. Hj. Zulfa Badri & jamaah wanita berada di masjid Nabawi

Sabtu sore setelah sholat ashar (25 Juni 2022)  jamaah akan melaksanakan pemantapan manasik umroh wajib untuk persiapan umroh yang akan dilaksanakan pada hari ahad (26 Juni 2022). Setelah manasik umroh, dilanjutkan  ziarah  wada’ dan istighosah ba’da isya’. Ziaroh wada’ memiliki manfaat kita datang baik baik kepada rasulullah dan kita akan pamitan dengan baik-baik pula kepada rasulullah dengan harapan mudah mudahan kita mendapatkan syafa’at dan semoga akhlak kita menjadi akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah SAW. Kemudian istighosah dan munajat dilantunkan kepada allah semoga perjalanan kita diberikan keselamatan, jamaah diberi kesehatan dan sempurna semua rangkaian ibadahnya. Hotel juga Alhamdulillah sudah diberikan yang terbaik oleh Allah untuk kita jamaah KBIHU Nurul Haramain. Alhamdulillah kondisi jamaah kita dalam keadaan sehat dan kalaupun ada yang sakit itu hanya sakit ringan tidak sampai masuk ke rumah sakit.

Ahad pagi (26 Juni 2022) seluruh kloter 19 sudah berada di bus untuk melanjutkan perjalanan nmenuju masjid Bir Ali untuk mengambil miqoat umrah. Sholat sunnah ihram dan niat ihram dijatuhkan di Masjid Bir Ali dan dilanjutkan menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Madinah ke Makkah membutuhkan waktu kira kira 6 jam. Semoga kloter 19 senantia diberikan keselamatan, kesehatan dan allah jadikan haji yang mabrur dan dimudahkan dalam segala urusan.

Secuil Kisah dari Madinah Read More »

Haramain Indonesia Dampingi Calon Jemaah Haji Jalani Pemeriksaan Kesehatan di Puskesmas Kraksaan

Kraksaan — Sebagai bagian dari persiapan menuju pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 M / 1447 H, sebanyak 67 calon jemaah haji mengikuti pemeriksaan kesehatan tahap pertama di Puskesmas Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari, mulai 31 Oktober hingga 3 November 2025, dengan jeda hari Minggu sebagai hari libur. 

Pemeriksaan kesehatan merupakan salah satu tahapan penting untuk memastikan seluruh calon jemaah dalam kondisi sehat, layak terbang, dan siap secara fisik maupun mental menjalankan ibadah haji. Kegiatan dimulai dengan proses administrasi, di mana jemaah menyerahkan berkas dan mendapatkan nomor antrean. Selanjutnya, petugas kesehatan memberikan tabung darah dan pot urine sebagai perlengkapan pemeriksaan laboratorium. Setelah itu, jemaah melakukan pembayaran biaya pemeriksaan dan dilanjutkan dengan pengambilan darah pertama.

Sambil menunggu pemeriksaan lanjutan, jemaah diberi waktu untuk makan dan minum agar tetap bugar. Pemeriksaan berikutnya meliputi tes elektrokardiogram (ECG) untuk mengetahui aktivitas listrik jantung serta pemeriksaan rontgen dada guna mendeteksi kondisi paru-paru dan organ dalam lainnya. Setelah seluruh tahapan selesai, jemaah menunggu sekitar dua jam untuk pengambilan darah kedua sebagai bagian dari pemeriksaan lanjutan.

Dalam kegiatan ini, KBIHU Nurul Haramain turut memberikan pendampingan penuh kepada seluruh calon jemaah. Pendampingan dilakukan sejak proses administrasi, pengisian formulir, hingga membantu koordinasi dengan petugas kesehatan di lokasi. Kehadiran tim pendamping bertujuan memudahkan jemaah dalam mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan serta memastikan kenyamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.

“yang sangat menunjang dalam kesehatan dhohir kita adalah sehat batin dan sehat hati kita. Mari lepaskan hal-hal yang mengganggu hati kita dan jauhi penyakit hati. Sehingga dhohir kita akan mewujudkan aura yang sehat.,” ujar Nyai Hj. Zulfa Badri, S.Pd.I Ketua KBIHU Nurul Haramain.

Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh semangat dari para jemaah serta petugas kesehatan. Semoga hasil pemeriksaan ini menjadi langkah awal menuju kesiapan lahir dan batin dalam menyambut panggilan Allah menuju Baitullah pada musim haji tahun 2026 mendatang.

Haramain Indonesia Dampingi Calon Jemaah Haji Jalani Pemeriksaan Kesehatan di Puskesmas Kraksaan Read More »

Keberangkatan Umrah Jemaah Grup 155 & 156 di Hari Santri Nasional

Keberangkatan Jemaah Umrah Grup 155 & 156✨

📆 Rabu, 22 Oktober 2025
📍Halaman Kantor NHM

Labaik Allahumma Labaik✨️

Alhamdulillah dalam Suasana keberkahan dan kemuliaan bulan Oktober di Hari Santri Nasional Prosesi Keberangkatan Umrah.

Dengan didoakan seluruh pengantar rombongan dan keluarga jemaah umrah dengan durasi waktu 16 hari sejumlah 82 Jemaah yang akan dibimbing oleh Ustazah Hj. Sriwari Asyari, S.Ag dan Lora Nur Majdi, M.H.

Alhamdulillah Acara berjalan dengan lancar dan khidmat.

Semoga beliau semua selalu diberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran. Saat berangkat, saat di Tanah Suci, dan saat kepulangan nanti. Kembali ke Tanah air dengan membawa banyak keberkahan, kemuliaan, dan kebaikan.

Aamiin Ya Rabbal Alamin 🤲🏻

Yuk Jadi bagian dari Tamu Allah dikeberangkatan Umrah Tahun 2025 🕋

Hubungi marketing kami:
📲 082302003045
📲 081358733445

📍Jl. Ir. H. Juanda 370 Patokan Kraksaan Probolinggo

🌿Percayakan perjalanan ibadah anda kepada yg sudah terbukti Profesional.

Keberangkatan Umrah Jemaah Grup 155 & 156 di Hari Santri Nasional Read More »

Bagaimana Rasulullah Saw Berdoa di Multazam?

Bagaimana Rasulullah Saw Berdoa di Multazam?

Multazam merupakan salah satu tempat yang sangat istimewa di Masjidil Haram, Mekkah. Tempat yang penuh berkah ini terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dengan jarak sekitar dua meter. Banyak umat Islam yang mendambakan kesempatan untuk berdoa di tempat yang mulia ini ketika menunaikan ibadah haji atau umrah.

Apa Itu Multazam?

Multazam berasal dari kata “iltazama” yang berarti “merapatkan” atau “memeluk”. Secara istilah, Multazam adalah dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempat ini dinamakan Multazam karena para jamaah biasanya menempelkan dada dan pipi mereka ke dinding Ka’bah sambil berdoa dengan penuh kekhusyukan.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan:

وهو ما بين الكعبة والحجر الأسود: وقد قدَّمْنَا أنه يُستجاب فيه الدعاء

Artinya: “Multazam adalah tempat (dinding) yang terletak di antara Ka’bah dan Hajar Aswad. Telah saya jelaskan sebelumnya bahwa berdoa di tempat ini akan dikabulkan.”

Keutamaan Berdoa di Multazam

Para ulama sepakat bahwa Multazam adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

الْمُلْتَزَمُ مَوْضِعٌ يُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ مَا دَعَا اللَّهَفِيْهِ عَبْدٌ إِلا اسْتَجَابَهُ

Artinya: “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Apa yang diminta seseorang kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

Dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Antara Rukun Aswad (sudut tempat terdapatnya Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Tidak ada orang yang minta sesuatu di Multazam melainkan Allah mengabulkan permintaan itu.”

Cara Rasulullah SAW Berdoa di Multazam

Hadits tentang Tata Cara Berdoa di Multazam

Tata cara berdoa di Multazam diriwayatkan dalam hadits yang terdapat di Sunan Abu Daud:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: طُفْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ فَلَمَّا جِئْنَا دُبُرَ الْكَعْبَةِ قُلْتُ: أَلَا تَتَعَوَّذُ؟ قَالَ: نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى اسْتَلَمَ الْحَجَرَ وَأَقَامَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ، فَوَضَعَ صَدْرَهُ وَوَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَكَفَّيْهِ هَكَذَا وَبَسَطَهُمَا بَسْطًا، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

Artinya: “Musaddad telah bercerita kepadaku, Isa bin Yunus bercerita kepadaku, Mutsanna bin Sabbah bercerita kepadaku, dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, ia berkata: Aku sedang bertawaf bersama Abdullah (Abdullah bin Umar). Ketika kami berada di belakang Baitullah, aku bertanya: tidakkah kamu memohon perlindungan?! Abdullah bin Umar menjawab: Kami berlindung kepada Allah dari panasnya siksaan api neraka. Setelah selesai, Abdullah mengusap Hajar Aswad dan berdiri di antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah, lalu merapatkan dada, muka, kedua siku, dan kedua telapak tangannya, kemudian Abdullah bin Umar berkata: seperti inilah aku melihat Rasulullah melakukannya.” (HR. Abu Daud dalam Bab Multazam, juz 2/181)

Hadits serupa juga diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah (2/987):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمُثَنَّى بْنَ الصَّبَّاحِ، يَقُولُ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: طُفْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَلَمَّا فَرَغْنَا مِنَ السَّبْعِ، رَكَعْنَا فِي دُبُرِ الْكَعْبَةِ فَقُلْتُ: أَلَا نَتَعَوَّذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ، قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ، قَالَ: ثُمَّ مَضَى، فَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ، ثُمَّ قَامَ بَيْنَ الْحَجَرِ، وَالْبَابِ، فَأَلْصَقَ صَدْرَهُ، وَيَدَيْهِ، وَخَدَّهُ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ

Artinya: “Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mutsanna bin Ash-Shabbah berkata: Amr bin Syuaib menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dia berkata: Aku bertawaf bersama Abdullah bin Amr, setelah kami menyelesaikan tujuh putaran, kami shalat di belakang Ka’bah. Lalu aku berkata: ‘Tidakkah kita berlindung kepada Allah dari api neraka?’ Dia menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.’ Kemudian dia berjalan, mengusap rukun (Hajar Aswad), lalu berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, lalu menempelkan dadanya, kedua tangannya, dan pipinya ke dinding. Kemudian dia berkata: ‘Seperti inilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.'” (HR. Ibnu Majah)

Urutan Tata Cara Berdoa di Multazam

Berdasarkan hadits di atas, urutan yang dilakukan adalah:

  1. Tawaf diselesaikan terlebih dahulu
  2. Shalat sunnah setelah tawaf dilakukan di belakang Ka’bah (maqam Ibrahim)
  3. Berdoa agar dilindungi dari siksa neraka
  4. Mengusap rukun (Hajar Aswad)
  5. Berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah
  6. Merapatkan dada, kedua telapak tangan, bagian dari wajah seperti pipi di Multazam

Posisi Tubuh Saat Berdoa di Multazam

Berdasarkan hadits-hadits di atas, cara Rasulullah SAW berdoa di Multazam adalah:

  1. Menempelkan Dada ke Dinding Ka’bah – Rasulullah SAW menempelkan dadanya ke dinding Ka’bah di area Multazam sebagai tanda kerendahan hati dan ketundukan kepada Allah SWT.
  2. Menempelkan Wajah/Pipi – Beliau juga menempelkan wajah atau pipi ke dinding Ka’bah.
  3. Menempelkan Kedua Lengan dan Telapak Tangan – Rasulullah SAW menempelkan kedua lengan (dzira’) dan kedua telapak tangannya ke dinding, membentangkannya dengan luas.
  4. Berdoa dengan Khusyuk – Dalam posisi seperti ini, Rasulullah SAW berdoa dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati.

Doa-Doa di Multazam

Doa Berlindung dari Api Neraka

Salah satu doa yang disebutkan dalam hadits adalah:

نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Kami berlindung kepada Allah dari panasnya siksaan api neraka.”

Doa Rasulullah SAW di Multazam

Rasulullah SAW pernah memanjatkan doa di Multazam:

اللَّهُمَّ رَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ، أَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَأَوْلَادِنَا مِنَ النَّارِ، يَا كَرِيْمُ يَا عَظِيْمُ يَا حَلِيْمُ يَا جَوَّادُ يَا مُنْعِمُ يَا مُفْضِلُ

Artinya: “Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka’bah), merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api neraka. Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebaikan.”

Doa lain yang dipanjatkan Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ، وَاقِفٌ تَحْتَ بَيْتِكَ فِي الْمُلْتَزَمِ، مُتَوَجِّهٌ إِلَيْكَ مُتَخَشِّعٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، أَرْجُو رَحْمَتَكَ وَأَخَافُ عَذَابَكَ، يَا وَاهِبُ الْعَطَايَا

Artinya: “Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-Mu yang sedang berdiri di bawah rumah-Mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan.”

Tidak Ada Doa Khusus yang Wajib

Sebenarnya tidak ada riwayat shahih tentang doa khusus yang wajib dibaca di Multazam. Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya berdoa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing, baik menggunakan bahasa yang dipahami atau dalam bahasa Arab.

Hikmah dan Makna Berdoa di Multazam

Dengan menempelkan tubuh di Multazam, seorang hamba berkesempatan untuk taqarrub atau menampakkan rasa cintanya kepada Baitullah dan Sang Pemilik Baitullah. Selain itu, seorang hamba juga akan mendapat keberkahan sebab bersinggungan dengan Ka’bah serta berharap api neraka akan melindungi setiap anggota tubuhnya yang pernah bersentuhan dengan batu Ka’bah atau Hajar Aswad.

Ketika berdoa di tempat ini, seseorang akan merasa tidak memiliki tempat lain untuk kembali kecuali hanya kepada Allah dan tidak ada tempat lain untuk memohon pertolongan selain dengan kemurahan dari Allah. Seorang ulama Hasan Bashri, jika melihat Multazam dirinya lantas menempelkan tubuhnya dan berpesan kepada orang-orang yang menyertainya, “Kalian biarkan aku sehingga aku mengakui dosa-dosaku di hadapan Allah”.

Adab Berdoa di Multazam

Bagi umat Islam yang berkesempatan berdoa di Multazam, berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan:

  1. Pilih waktu yang tepat – Usahakan datang saat tidak terlalu ramai agar lebih khusyuk dan tidak mengganggu jamaah lain.
  2. Jaga kebersihan – Pastikan dalam keadaan suci dan berwudhu sebelum mendekati Ka’bah.
  3. Bersikap sopan dan tertib – Jangan berdesakan atau menyakiti jamaah lain yang juga ingin berdoa di tempat tersebut.
  4. Berdoa dengan tulus – Panjatkan doa dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa-doa yang baik.
  5. Tidak berlama-lama – Karena banyak jamaah yang menunggu giliran, sebaiknya tidak berlama-lama di Multazam agar jamaah lain juga mendapat kesempatan.

Pendapat Ulama tentang Status Hadits Multazam

Para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan hadits tentang Multazam:

Beberapa hadits tentang Multazam dinilai lemah (dhaif) oleh sebagian ulama. Imam An-Nawawi melemahkan hadits ini, dan Imam Adz-Dzahabi mengatakan hadits tersebut “munkar”. Namun, sebagian ulama seperti Al-Albani menilai hadits-hadits tentang Multazam secara keseluruhan sebagai hadits hasan.

Meskipun demikian, terdapat riwayat dari para sahabat dan tabiin yang menunjukkan disyariatkannya berdoa di Multazam. Ibnu Abbas berkata: “Multazam itu ada di antara sudut dan pintu Ka’bah.” Dari Mujahid, ia berkata: “Dahulu mereka (para sahabat) mengkonsistenkan diri beribadah dan berdoa di area antara sudut dan pintu Ka’bah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kalau seseorang suka untuk mendatangi Multazam – yaitu area antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah – lalu di sana ia meletakkan dada, wajah, dua lengan dan kedua telapak tangannya, berdoa dan meminta segala kebutuhannya kepada Allah, ia boleh melakukan hal tersebut.”

Kesimpulan

Multazam adalah tempat yang sangat istimewa untuk berdoa di Masjidil Haram. Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW telah memberikan contoh bagaimana berdoa dengan khusyuk di tempat ini dengan menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan kedua telapak tangan ke dinding Ka’bah sambil memanjatkan doa.

Yang terpenting dalam berdoa di Multazam adalah ketulusan hati dan keyakinan bahwa Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hamba-Nya yang beriman. Tidak ada bacaan doa khusus yang wajib, sehingga setiap Muslim bebas memanjatkan doa sesuai kebutuhan dan keinginannya.

Bagi mereka yang belum berkesempatan berdoa di Multazam, hendaknya tidak berkecil hati. Allah SWT mendengar setiap doa hamba-Nya di mana pun mereka berada, selama doa tersebut dipanjatkan dengan tulus dan ikhlas.

 

Wallahu a’lam bishawab – Allah yang lebih mengetahui kebenaran.

Bagaimana Rasulullah Saw Berdoa di Multazam? Read More »

Saudi Umumkan Jadwal Resmi Penerbangan Haji 2026, Catat Tanggalnya!

HIMPUHNEWS — Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (General Authority of Civil Aviation/GACA) merilis kalender operasional penerbangan Haji 2026 (1447 H). Jadwal dibuat presisi untuk mengatur arus jutaan jamaah yang masuk-keluar Kerajaan lewat bandara-bandara utama, dengan ketentuan tanggal Masehi dijadikan rujukan utama bila ada selisih dengan kalender Hijriah. Baca Selengkapnya

Saudi Umumkan Jadwal Resmi Penerbangan Haji 2026, Catat Tanggalnya! Read More »

Hasil Riset Ilmuan Buktikan Hajar Aswad Bukan Batu dari Bumi

Hajar Aswad: Bukan Batu dari Bumi

Pendahuluan

Hajar Aswad, atau “Batu Hitam,” adalah salah satu objek paling suci dalam Islam, terletak di sudut timur laut Kakbah di Masjidil Haram, Mekah. Selama berabad-abad, terdapat berbagai tradisi dan narasi tentang asal-usul batu fenomenal ini. Namun, penelitian ilmiah modern dan analisis geologis mengungkapkan sesuatu yang menarik: Hajar Aswad bukan sekadar batu biasa dari permukaan bumi. Dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh at-tirmidzi :

Teori Meteorit: Penjelasan Ilmiah

Para ilmuwan dan ahli geologi telah menyimpulkan bahwa Hajar Aswad kemungkinan besar adalah meteorit yang jatuh dari luar angkasa. Beberapa karakteristik mendukung kesimpulan ini:

Komposisi Kimia yang Unik Analisis geologis menunjukkan bahwa komposisi Hajar Aswad berbeda dari batuan basalt biasa yang ditemukan di wilayah Jazirah Arab. Meteorit umumnya mengandung elemen-elemen luar biasa seperti nikel dan besi dalam proporsi yang tidak lazim pada batu terrestrial biasa.

Warna Hitam Pekat Warna hitam yang sangat pekat adalah indikasi khas dari material meteorit. Ketika meteorit memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, lapisan luar batu mengalami ablasi (pengikisan), menciptakan permukaan yang sangat gelap dan mengkilap.

Struktur Kristal yang Khusus Struktur internal Hajar Aswad menunjukkan pola kristalisasi yang konsisten dengan proses pendinginan meteorit di angkasa, bukan proses geologi normal di kerak bumi.

Perspektif Tradisional Islam

Dalam tradisi Islam, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad berasal dari surga. Hadits menyebutkan bahwa batu ini diturunkan oleh Allah sebagai penanda khusus.

Dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh at-tirmidzi :

سنن الترمذي ٨٠٤: حَدَّثَنَا قُتَيْبَة حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ رَجَاءٍ أَبِي يَحْيَى قَال سَمِعْتُ مُسَافِعًا الْحَاجِبَ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرُّكْنَ وَالْمَقَامَ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَاقُوتِ الْجَنَّةِ طَمَسَ اللَّهُ نُورَهُمَا وَلَوْ لَمْ يَطْمِسْ نُورَهُمَا لَأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا يُرْوَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَوْقُوفًا قَوْلُهُ وَفِيهِ عَنْ أَنَسٍ أَيْضًا وَهُوَ حَدِيثٌ غَرِيبٌ

 

Tirmidzi 804: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai’] dari [Raja` Abu Yahya] berkata: saya telah mendengar [Musafi` Al Hajib] berkata: saya telah mendengar [Abdullah bin ‘Amr] berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim merupakan dua permata di antara permata surga. Allah telah menghapus cahaya keduanya. Jika tidak Allah hapus, niscaya cahayanya akan menerangi jarak antara timur dan barat.” Abu ‘Isa berkata: “Ini diriwayatkan dari Abdullah secara mauquf. Perkataan dia dan ini dari Anas, dan merupakan hadits gharib.”

 Menariknya, narasi kuno ini selaras dengan teori modern bahwa Hajar Aswad bukan dari bumi—walaupun dalam arti yang berbeda. Jika Hajar Aswad adalah meteorit, maka memang benar bahwa batu ini berasal dari “langit,” yakni dari luar angkasa.

Sejarah dan Penemuan

Menurut catatan sejarah, Hajar Aswad telah menjadi bagian integral dari Kakbah sejak zaman pra-Islam. Dalam berbagai insiden sepanjang sejarah, batu ini pernah diambil atau hilang. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada tahun 930 Masehi ketika sekta Qarmatian membawanya pergi. Batu ini dikembalikan puluhan tahun kemudian, tetapi ada beberapa retak dan pecahan.

Keberadaan Hajar Aswad yang terdokumentasi selama ribuan tahun dan signifikansi religiusnya yang mendalam menjadikan penelitian ilmiahnya sangat sensitif dan terbatas.

Implikasi Spiritual dan Ilmiah

Penemuan bahwa Hajar Aswad mungkin adalah meteorit tidak mengurangi makna spiritualnya bagi umat Muslim. Sebaliknya, hal ini menambah dimensi baru pada pemahaman kita tentang alam semesta dan kehendak Ilahi. Keajaiban alam—seperti meteorit yang melintasi jutaan kilometer untuk mencapai bumi—dapat dilihat sebagai manifestasi dari kebesaran ciptaan.

Batu luar angkasa yang menjadi simbol umat Muslim selama ribuan tahun adalah bukti bahwa keindahan dan keajaiban dapat hadir dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun.

Kesimpulan

Hajar Aswad, dengan probabilitas tinggi, bukan batu dari bumi dalam arti geologis konvensional. Ia adalah pengunjung dari angkasa raya—sebuah meteorit yang telah memilih untuk menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan dan spiritualitas manusia. Bukti ilmiah ini membuka perspektif baru tentang bagaimana tradisi kuno, keyakinan spiritual, dan penemuan sains modern dapat bertemu dalam harmoni yang indah.

Ketika kita memandang Hajar Aswad, kita tidak hanya melihat batu hitam yang dipenuhi makna agama. Kita melihat pesan dari kosmos—pengingat bahwa ciptaan Allah melampaui batas-batas bumi, dan bahwa misteri alam semesta terus mengungkap keajaibannya kepada mereka yang memiliki mata untuk melihat.

 

Hasil Riset Ilmuan Buktikan Hajar Aswad Bukan Batu dari Bumi Read More »

Scroll to Top